Begini Seharusnya Sikap Kita Terhadap Warung yang Buka di Bulan Puasa

Begini  Seharusnya Sikap Kita Terhadap Warung yang Buka di Bulan Puasa

Beberapa hari ini media heboh dengan razia satpol PP di Banten yang merazia seorang ibu-ibu pedagang makanan.  Banyak orang yang penuh emosi meyayangkan sikap satpop PP ini. Bahkan banyak yang mengutuknya. Dalihnya macam-macam. Opini kemudian digiring pada isu toleransi. Tepatnya umat Islam seharusnya “Menghormati Orang yang Tidak Puasa”.

Logika sudah kebolak-balik sekarang ini. Lantas bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap warung yang buka saat puasa (terutama di pagi sampai sore hari)? KH Dr Ahmad Lutfi Fathulah (Pendiri Pusat Kajian Hadis) memberikan beberapa kemungkinan.

Pertama, Haram jika warung tersebut berada di komunitas muslim. Kedua, Halal, jika menjualnya di komunitas non muslim seperti sekolah-sekolah non muslim dan kampus-kampus non muslim. Ketiga, Mubah jika menjualnya di tempat-tempat orang yang diperbolehkan tidak berpuasa seperti di bandara, stasiun kereta api, terminal bus dll.

Mana dalil yang mengharamkannya?  Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah ayat 2 yang artinya “Dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”.  Tidak berpuasa bagi mereka yang wajib berpuasa adalah dosa, menolong perbuatan dosa adalah perbuatan yang haram. Oleh karena itu, menyediakan makanan diwaktu orang wajib berpuasa adalah haram.

Memang kadang muncul pertanyaan “Kalau warung tidak buka, kami makan apa, ini kan ladang kami mencari rejeki?” Inilah  keyakinan ini diuji. Kalau iman kita tebal dan yakin atas apa yang dikatakan Allah, kita menaati perintah Allah, Insyallah, rejeki tidak akan kemana-mana dan rejeki akan dibukakan pada pintu yang lain. (Zaidan Nafis/Halaltren.com).