Film Bunda Perspektif Ayah

Film Bunda Perspektif Ayah

Sebenarnya saya tidak terlalu selera film drama. “Tapi, ada inspirasi bisnisnya loh”, kata ibunya anak-anak. Baiklah. Berangkat. Saya menonton lengkap dengan dua anak yang masih kecil. Nunggu mereka tidur dulu. Jam 8 malam baru kesampaian nonton film itu, ” Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi” di Depok Town Square. Untuk tiket, ditraktir ibunya anak-anak. Ahai.

Doi memang kebelet nonton film itu secara dia juga sedang semangat menjalankan bisnisnya. Percil (Perawat Cilik), sebuah proyek edukasi kesehatan anak. Saat ini, produk yang sudah diluncurkan 10 desain kaos edukasi kesehatan anak.

Layaknya film drama, selalu menekankan jalan cerita. Itulah yang terjadi di film ini. Menampilkan sosok Bunda (Tika) yang begitu gigih dalam menjalankan bisnisnya.

Sementara, suaminya masih dalam kondisi kepayahan mencari kerja sebagai seorang Geolog. Singkat cerita, Tika adalah sosok bunda yang gigih dalam menjalankan bisnisnya, tak terlalu banyak mikir. Yang penting bisnis jalan untuk bisa keluar dari tekanan finansial keluarga. Walau sempat tertipu dalam menjalankan bisnisnya.

Film ini memang diangkat dari kisah nyata, jatuh bangun sampai suksesnya bisnis “Keke Busana”. Sebuah film yang diangkat dari novel karya penulis ternama Forum Lingkar Pena (FLP), tak lain tak bukan, Asma Nadia. Saya belum membaca novelnya. Hanya saja, saya menilai film ini aman ditonton keluarga, bahkan anak-anak. Sekadar untuk hiburan, mengakrabkan keluarga sambil mengambil spirit inspirasi bisnis dari salah satu pengusaha di tanah air.

Film ini memang menampilkan sosok Tika yang begitu dominan dalam keluarganya. Dia terus bergerak, aktif. Bekerja kantoran sambil berbisnis, lalu keluar dan fokus menjalankan bisnisnya. Sementara, suaminya ditampilkan sebagai sosok yang payah. Tak pintar cari uang. Hanya saja, yang dia punya, kedekatan dengan anak-anak. Saat anak-anak dalam tekanan, disuruh belajar dan menuruti semua kemauan ibunya, anak-anak memilih kabur dan bersama ayah mereka. Begitulah.

Sebagai seorang ayah, menonton film itu saya hanya senyum-senyum saja. Layaknya dalam sebuah keluarga, ingat aturan bakunya, “Istri selalu benar”, kalau istri salah, ingat peraturan pertama. Jadi, kalau boleh curhat, sebagai seorang ayah, kita memang tak perlu misalnya menonjolkan peran atau kerja keras kita dalam memimpin keluarga.

Pedih perih cukup kita yang merasakan. Pasangan atau anak-anak tak perlu tahu. Yang terpenting, terus selalu bekerja, berinovasi, melakukan yang terbaik untuk keluarga. Memastikan agar mereka tetap bisa tersenyum. Kalau serius memimpin dan bertanggung jawab kepada keluarga. Tuhan pasti memberikan keberkahan setelahnya.

Jadi, kalau diminta komentar singkat tentang film itu. Datang dan nikmati saja filmnya, kalau perlu bersama keluarga. Dan. Rasakan datangnya keajaiban setelahnya. (Yons Achmad/halaltren.com).

Penulis. Founder Halaltren.com. WA: 082123147969