Jakarta Harus Punya Ikon Wisata Halal

Jakarta Harus Punya Ikon Wisata Halal

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan mengatakan DKI Jakarta harus memiliki ikon wisata halal jika ingin menjadi destinasi wisata halal terbaik.

“Jakarta bisa menjual wisata petualangan dari Kepulauan Seribu sebagai 10 Bali baru yang didapat dikembangkan sebagai wisata halal,” ujar dia saat Focus Group Discussion bersama Masyarakat Ekonomi Syariah di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (7/3).

DKI Jakarta juga dapat menjual tiga atraksi yang menjadi unggulan baik berupa minuman, makanan, festival maupun wisata alam. “Menurut saya, jika menjual budaya Islam, wisatawan Timur Tengah tidak terlalu tertarik karena negara mereka telah menjadi pusatnya,” ujar dia.

Jakarta dapat menjual wisata belanja halal dengan terlebih dahulu membenahi mal dan hotel. Saat ini belum banyak mal dan hotel yang ramah Muslim.

Banyak dari mal dan hotel yang belum memiliki masjid dan tempat bersuci yang layak. Berbeda dari Jepang misalnya yang 70 persen toilet pada fasilitas publik menyediakan air karena mereka sadar pentingnya bersuci bagi umat Islam terutama turis Muslim. Pemandu wisata Muslim juga dilatih secara khusus untuk menjamu wisatawan Muslim sehingga wisata halal di Jepang berkembang dengan baik.

Demikian juga dengan wisata halal di Lombok. Gubernur Nusa Tenggara Barat saat itu berani menyubsidi 300 hotel dan restoran yang notabene bukan usaha kecil untuk mensertifikasi halal. Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta dapat belajar dari NTB cara agar hotel dan restoran mau secara massal mensertifikasi halal usahanya. Setelah serius mengelola destinasi wisata halal, ternyata terlihat hasilnya, mereka mampu meningkatkan wisatawan hingga 50 persen.

“Untuk komitmen menjadikan destinasi wisata halal bukan hanya menjadi tugas dinas pariwisata tetapi juga tanggung jawab lintas sektor,” kata dia.

Seperti keinginan Wakil Gubernur Sandiaga Uno, destinasi wisata halal harus memiliki target yang jelas. Jakarta dapat membagi waktu liburan sesuai target pasar. Wisatawan Timur Tengah misalnya, mereka biasa memilih liburan Juni hingga September. Mereka dapat ditawarkan wisata alam, belanja, spa dan tempat nongkrong 24 jam.

Pasar yang besar juga berasal dari Muslim Eropa dan Asia. Sebanyak 800 juta dari 1,8 miliar wisatawan Muslim berasal dari Asia dan Eropa. Mereka lebih banyak wisata petualangan.

“Jangan menunggu serba lengkap, tapi apa yang kita miliki saat ini dapat dipoles, Dubai punya shopping festival satu bulan penuh, London juga punya ikon wisata halal, Jakarta dengan banyaknya mal dapat dipoles untuk shopping festival dengan fasilitas ramah Muslim,” ujar dia. (Ratna Ajeng/Sumber: Republika/7/3/18)