Konsumsi Kuliner, Tertinggi di DIY

Konsumsi Kuliner, Tertinggi di DIY

Sejak tahun 2014, ekonomi DIY selalu tumbuh lebih tinggi dari nasional. Pada triwulan II 2017, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY naik menjadi 5,17%, sedangkan nasional tumbuh relatif stabil di angka 5,01%. Pertumbuhan ekonomi DIY hanya masih lebih rendah dibanding Jawa yang tumbuh 5,41%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Budi Hanoto SE MBA mengatakan, pertumbuhan ekonomi DIY yang mencapai 5,17% tersebut didorong semakin solidnya tren konsumsi yang semakin baik sejak pertengahan 2016. Di tengah tren perlambatan konsumsi masyarakat secara nasional, konsumsi masyarakat DIY mampu terus tumbuh mencapai 5,47% dan tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi konsumsi rumah tangga (RT) DIY selama 3 tahun terakhir.

Menurut Budi, konsumsi masyarakat DIY paling banyak dialokasikan untuk sektor kuliner, makanan, minuman dan restoran sebesar 41,8%. ”Sektor kuliner ternyata menjadi penggerak utama ekonomi DIY,” terang Budi dalam Focus Group Discussion bertema ‘Menakar Kekuatan Daya Beli Masyarakat DIY’ di Kantor BI DIY, Jumat (25/08/2017).

Dikatakan Budi, jumlah tenaga kerja informal DIY cenderung turun dari 58,4% periode Februari 2016 menjadi 52,1% Februari 2017. Tenaga kerja informal tersebut banyak yang pindah ke sektor formal dengan pendapatan yang lebih baik. ”Pendapatan perkapita mengalami peningkatan sebesar 7,31% dari Rp 27,57 juta pertahun (2015) menjadi Rp 29,59 pertahun (2016),” ujarnya Indikator lain yang menunjukkan solidnya daya beli masyarakat DIY adalah peningkatan jumlah kendaraan, konsumsi listrik dan kredit konsumsi triwulan II 2017 terutama kredit perumahan dan kredit kendaraan bermotor.

Begitu juga dengan hasil survei konsumen yang dilakukan BI yang mengonfirmasi perbaikan konsumsi dan daya beli masyarakat. ”Konsumen masih yakin kondisi ekonomi DIY saat ini masih baik dan akan meningkat 6 bulan ke depan,” kata Budi.

Sementara Kepala BPS DIY Drs YB Priyono MA mengatakan, meskipun ada kekhawatiran penurunan daya beli masyarakat secara nasional, hal itu tidak berlaku bagi DIY. Pasalnya, DIY cukup kuat di sektor ekonomi kreatif dengan banyaknya pengembang-pengembang aplikasi digital, yang akan menggerakkan perekonomian.

Selain itu, DIY dengan segudang objek wisata menarik akan menjadi magnet bagi menggeliatnya bisnis akomodasi, transportasi dan kuliner (makanan & minuman). ”Kehadiran bandara internasional di Kulonprogo akan lebih mendongkrak perekonomian DIY,” katanya.

Selanjutnya sebagai kota pendidikan, DIY punya banyak perguruan tinggi negeri berkualitas yang menjadi tujuan studi banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Para mahasiswa itu pasti butuh kos, jasa laundry pakaian dan lain-lain.

Tak hanya itu, puluhan bahkan ratusan ribu mantan mahasiswa yang punya ikatan emosional dengan DIY tentu akan memilih kembali lagi ke DIY, walau hanya sekadar liburan atau bernostalgia. ”Tidak usah khawatir terjadi penurunan daya beli masyarakat DIY,” kata JB Priyono. (Ivan Aditya/Sumber KR/26/8/17)