Membangun Ekosistem dan Industri Halal di Indonesia

Membangun Ekosistem dan Industri Halal di Indonesia

SALAH satu visi dan misi keislaman yang dibangun oleh Negara Malaysia sebagai salah satu negara yang mayoritas muslim adalah dengan mengembangkan perekonomian syariah secara global.

Salah satu program tahunan untuk mendukung pengembangan ekonomi syariah yang selalu diselenggarakan oleh Pemerintah Malaysia adalah  konferensi dunia tentang halal.

Tahun ini adalah tahun ke-10 penyelenggaraan Konferensi Halal Dunia yang diselenggarakan oleh Pemerintah Malaysia yang penyelenggaraanya diselenggarakan secara serentak dengan acara pameran produk halal dari seluruh dunia. Dimana acara pameran produk halal diikuti oleh para pebisnis dari seluruh dunia.

Dalam acara World halal Conference 2018 ke-10 kali ini yang diselenggarakan pada tanggal 4-5 April 2018 lalu di Kuala Lumpur, mengambil tema “Whither The Next Economy”.

Tema tersebut diambil dalam upaya untuk membangun dan meningkatkan ekonomu syariah sehingga dapat menjadi penopang ekonomi dunia. “Halal” sebagai salah satu bagian dari penunjang dan pondasi ekonomi syariah saat ini telah menjadi semacam ekosistem dan juga Industri.

Produk Halal telah menjadi bagian bisnis dunia yang nilainya sangat besar yang diperuntukan bukan saja untuk masyarakat muslim tetapi juga masyarakat non-muslim. Dengan jumlah populasi masyarakat penganut agama Islam yang terus meningkat, maka produk halal bukan hanya menjadi pusat perhatian negara-negara mayoritas muslim akan tetapi juga negara-negara non-muslim. Produk halal saat ini tidak hanya identik dengan produk makanan, namun telah menyentuh hampir semua lahan bisnis yang ada, mulai dari bahan dasar makanan, produk dan pelayanan kesehatan, kosmetik dan kebutuhan pribadi, travel dan juga pelayanan keuangan.

Dalam konferensi world halal tersebut juga dibahas tentang sejauhmana ekonomi syariah khususnya industri halal dapat mempersiapakn diri untuk menghadapi loncatan revolusi industri generasi keempat [Industri 4.0] yang mau tidak mau harus dihadapi dan menjadi tantangan bagi pengembangan ekonomi syariah.

Ada lima topik sentral yang dibahas dalam konferensi halal tersebut dengan menghadirkan para pakar dan pelaku bisnis dari seluruh dunia. Kelima topik tersebut adalah 1) Game Changer : Economy Revolution, 2)Emerging Trend of Global Economy & Implications to Malaysia’s Halal Industry, 3) Internatonalisation of Islamic Economy : Global Integration & Strategic Collaboration, 4) Halal & Science, 5) Managing The Brand.

Topik bahasan tersebut menjadi isu sentral yang menyedot perhatian semua peserta konferensi dari seluruh dunia. Antusiasme peserta dari seluruh dunia sangat terlihat dari membludaknya peserta yang hadir sehingga panitia kewalahan untuk menyediakan tempat duduk untuk peserta konferensi,ditambah lagi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta kepada semua narasumber sehingga waktu yang ada yang telah diatur oleh panitia tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan dari peserta konferensi.

Selain acara konferensi,panitia acara yaituKementerian Perindustrian dan Perdagangan Malaysia juga menyelenggarakan acara pameran produk halal yang diikuti oleh para pelaku bisnis dari seluruh dunia bertempat di MITEC Kuala Lumpur.

Dalam acara pameran tersebut selain disi oleh berbagai booth yang mengenalkan dan mempromosikan berbagai produk halal dari seluruh dunia yang memiliki sertifikat halal, juga diisi dengan berbagai presentasi dan simpsoium produk halal dari berbagai belahan dunia.

Indonesia yang notabene adalah negara dengan mayoritas penduduk beragamaIslam terbesar di dunia juga hadir menjadi peserta pameran dan mengenalkan berbagai produk halal dari seluruh Nusantara.

Hal lain yang juga menarik dalam penyelenggaraan konferensi halal dan pameran produk halal di Malaysia adalah banyaknya universitas di Malaysia yang juga membuka booth khusus untuk memperkenalkan lembaga riset dan pelatihan halal yang dimiliki masing-masing universitas.  Salah satunya adalah Inhart (International Institute for Halal Research and Training) yang dimiliki oleh kampus IIUM (Internastional Islamic University Malaysia)yang memberikan pendidikan, penelitian, pelatihan, dan konsultasi kelas dunia yang berkaitan dengan industri halal kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh dunia.

Dukungan pelatihan dan penelitian dari para akademisi ini jelas sangat membantu Pemerintah Malaysia dalam upaya menjadikan halal sebagai industri global sehingga Malaysia dapat menjadi perintis dalam hal pengembangan industri halal di seluruh dunia.

Pendidikan, Pelatihan, Penelitian dan Serifikat Halal

Malaysia menjadi salah satu negara yang sangat konseun terhadap upaya membangun ekosistem dan industri halal sehingga menjadikan halal sebuah ekosistem dan industri yang global dan diakui di seluruh dunia. Bagaimana tidak, industri halal di Malaysia telah menjadi rujukan dunia dan menghasilkan keuntungan milyaran bagi pelaku industri halal di Malaysia. Hal tersebut bukan hanya menjadi visi dan misi pemerintah dan kerajaan Malaysia untuk memajukan ekonomi umat dan masyarakat namun lebih jauh lagi menjadikan halal sebagai komoditas industri dunia dan menjadikan Malaysia sebagai rujukan industri halal di seluruh dunia.

Untuk mendapatkan sertifikat halal di Malaysia sangatlah mudah karena hampir di semua universitas di Malaysia telah ada lembaga halal yang dibentuk dengan tujuan untuk membantu memudahkan para stake holder untuk bersentuhan dengan dunia halal khususnya dalam hal pelatihan, penelitian dan pendidikan yang berkaitan dengan industri halal. Semua lembaga pendidikan, pelatihan dan penelitian halal tersebut memiliki tujuan untuk

membantu pemerintah guna menjadikan Malaysia sebagai pusat halal global dan untuk membantu upaya industri halal secara global.

Dukungan dari universitas ini menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Malaysia sehingga dengan adanya dukungan dari para akademisi untuk membangun ekosistem dan industri halal, maka industri halal akan terus di update melalui berbagai riset yang dilakukan di universitas sehingga industri halal terus mengalami proses transformasi dan pada akhirnya mautidak mau masyarakat akan selalu bersentuhan dengan produk halal sehingga kepedulian masyarakat terhadap produk halal juga meningkat.

Peran Indonesia dalam Industri Halal

Lalu bagaimana dengan Indonesia?  Sayangnya dalam acara konferensi world halal yang ke-10 kali ini, meskipun dalam pembukaan acara konferensi hadir Menteri Desa dan PDT Bapak Eko Putro Sandjojo, namun tidak ada satupun nara sumber asal Indonesia yang memberikan paparan tentang sejauh mana Pemerintah Indonesia dan/atau pelaku bisnis Indonesia bersiap menyongsong revolusi industri keempat khususnya dalam hal ekonomi syariah dan industri halal.

Indonesia yang notabene adalah negara dengan mayoritas Islam terbesar di dunia tentunya harus ikut andil menjadi bagian dalam upaya mengembangkan ekonomi syariah khususnyahalal agar juga dapat menjadi ekosistem dan industri serta bersiap menghadapi tantangan revolusi ekonomi generasi keempat.

Tentunya dibutuhkan kerjasama dan keinginan yang kuat dari Pemerintah Indonesia dan pelaku bisnis Indonesia untuk juga berupaya membangun ekosistem halal dan menciptakan bangunan halal menjadi sebuah industri bagi kemaslahatan umat dan masyarakat Indonesia.

Hal yang paling utama yang harus segera dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana agar dapat menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat terhadap produk halal. Hal tersebut tentunya bukan hanya semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah saja namun juga menjadi tanggung jawab para wirausahawan, akademisi dan juga para profesional.

Dibutuhkan kerja keras dari semua elemen masyarakat agar produk halal di Indonesia menjadi sebuah ekosistem dan industri yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.Oleh karena produk halal saat ini bukan hanya identik dengan makanan tetapi juga telah menyentuh semua eleman bisnis yang ada sehingga dibutuhkan banyak sumber daya manusia yang bukan hanya paham tentang  halal namun lebih jauh lagi mampu membuat inovasi agar halal dapat menyentuh semua aspek bisnis mulai dari makanan, perbankan, properti, hotel, travel hingga kosmetik dan chemical.

Semoga pemerintah, para pengusaha, akademisi, profesional dan masyarakat Indonesia juga dapat segera bergerak cepat untuk bergandengan tangan mengejar ketertinggalannya agar halal di Indonesia menjadi sebuah ekosistem dan industri bagi kemaslahatan umat dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.*

Hani Adhani. Peserta World Halal Conference 2018. Saat ini sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum IIUM Malaysia – Panitera Pengganti Mahkamah Konstitusi RI. Pengurus PCIM Malaysia dan Wakil Kordinator Bidang Hukum dan Advokasi PPI Malaysia. (Sumber: Hidayatullah.com/1/Juni/18)