Menghidupkan Literasi di Kampung Pemulung

Menghidupkan Literasi di Kampung Pemulung

“Jika suatu hari ada yang sudah bisa membuka usaha sendiri dengan keahliannya, saya biarkan mereka keluar dari lapak-lapak. Jangan sampai, di lapak, mereka jadi pemulung selamanya,” tutur Bapak Rommel, tokoh masyarakat di Kampung  Harapan, komunitas pemulung Jatipadang,  Jakarta Selatan.

Terik membersamai langkah kami siang itu. Bersama dua orang sahabat saya, Mas Azwa dan Mbak Febi, mengunjungi sebuah kampung yang semua warganya berprofesi sebagai pemulung. Menyusuri gang-gang sempit sembari bercakap mengenai sebuah program yang akan kami jalankan.  Di balik tembok rumah terakhir,  terpampang jelas sebuah wajah lain ibu kota. Rumah-rumah semi-permanen yang jauh dari kata layak.

Sebuah seatwalker bayi lusuh, ada di salah satu bagian depan rumah. Jemuran baju-baju kecil semakin memperkuat bahwa ada balita di dalam rumah itu. Rumah yang tanpa pohon, dengan “ornamen” sampah dan barang bekas menumpuk di depan rumah. Menguatkan kesimpulan akan tidak layaknya kampung ini disebut sebagai kampung layak anak. Ditambah udara terik tanpa pohon dan debu yang beterbangan. Saya menghembuskan napas, dan mengecup kening Java yang ada dalam gendongan saya.” Nak, kamu lebih beruntung dari mereka”.

Di seberang perkampungan itu, ada sebuah RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak). Langkah kami berlanjut ke RPTRA itu. Napas harapan, kami rasakan di sini. Jika banyak orang menyebut kampung itu sebagai  Kampung Pemulung, tapi kami lebih suka menamainya Kampung Harapan. RPTRA ini (seharusnya) menjadi semacam “oase” bagi kampung ini.

Di RPTRA ini, ada sebuah ruangan khusus semacam perpustakaan. Ruangannya nyaman, dilengkapi buku dari usia balita hingga dewasa. Dindingnya dihiasi wallstiker cantik, ada meja dan kursi yang cukup nyaman untuk membaca. Lengkap dengan sebuah pendingin ruangan (AC). “Sayangnya, belum ada program yang beda, Mbak, ” kata Mas Azwa kepada kami berdua. Untuk sebuah tempat yang nyaman seperti ini, belum ada program? Saya hanya menelan ludah.

Menjadi pemulung, bukan sebuah pekerjaan yang hina. Mereka tidak mengemis dan meminta-minta. Memulung dan mengumpulkan barang bekas, bukan pula pekerjaan haram. Justru mereka adalah orang-orang yang berjasa untuk lingkungan. Tanpa mereka, sampah-sampah akan menggunung dan tidak ada yang memilah dan memilihnya untuk didaur ulang. Tanpa mereka, bisa jadi, bumi ini akan penuh dengan sampah.

Mungkin, masyarakat di sana sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang. Buktinya, mereka betah tinggal di sana hingga turun temurun. Toh, kita tidak bisa pungkiri, kehadiran mereka diperlukan. Hanya saja, bagaimana agar mereka memiliki cara pandang yang berbeda mengenai kehidupan yang lebih layak, pendidikan yang lebih baik, tempat tinggal dan sanitasi yang baik, dan mental kemandirian.

Jika ditanya, saya yakin, tidak ada orang yang bercita-cita menjadi pemulung dengan risiko pekerjaan yang sangat tinggi paparannya terhadap penyakit. TBC, ISPA, diare, dan penyakit kulit, menjadi dominasi penyakit di komunitas semacam ini. Bahkan, bagi pemulung yang mencari sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), sangat berisiko mengalami kematian mendadak saat menghirup gas metan beracun yang dihasilkan oleh sampah. Barangkali, mereka bertahan dengan pekerjaan itu, karena tidak ada pilihan. Atau terpaksa dibuat memilih itu.

Belum lagi dengan risiko harus pindah mendadak, karena penggusuran. Jika melihat sekitar kampung itu, tepatnya di sebelah RPTRA, adalah pemukiman penduduk menengah atas dengan rumah berlantai dua.  Sehingga tidak menutup kemungkinan jika kelak  pemilik lahan akan menjualnya ke pengembang, atau membangun perumahan di sana. “Ingin juga agar di sini lebih rindang dengan pepohonan. Tapi sayangnya, tanah yang kami tempati  sebagian bisa dibilang sedang dalam sengketa. Meskipun ada yang menjadi hak milik. Jadi kalau untuk bisa menanam pohon, sepertinya susah. Tapi untuk program kesehatan dan sanitasi, sangat kami harapkan,” tambah Bapak Rommel.

“Ada banyak bantuan, dan kami sangat berterimakasih. Bahkan, ketika puasa, dari tanggal 1 Ramadhan hingga hari terakhir puasa, makanan untuk berbuka tidak pernah absen. Juga bantuan lain yang melimpah. Tapi, bagi saya, yang juga kami butuhkan adalah pendidikan dan keterampilan-keterampilan yang bisa membuat hidup lebih baik. Saya senang dan sangat mendukung  ketika ada yang sudah berhasil keluar dari lapak. Contohnya, sekarang sudah ada yang bisa mengontrak rumah permanen, juga ada yang sudah bisa membuka bengkel sendiri,” kata Bapak Rommel yang sudah 9 tahun hidup bersama warga di kampung itu, merasakan langsung susah-senangnya.

Rumah Baca, kami akan memulainya dari sini. Kami sepakat, bahwa memperbaiki komunitas semacam ini, tidak cukup hanya dengan materi. Bahkan, jika uang yang diberikan, akan cepat menguap begitu saja. Yang lebih diperlukan adalah membangun mental, membuka cakrawala literasi mereka. Dengan buku, salah satunya.

Jika kelak pada akhirnya mereka harus pindah dari tempat itu, dan tetap bertahan dengan pekerjaan memulungnya, semoga, dengan literasi, mereka akan lebih memiliki pola pikir dan mental yang lebih baik dan berkembang. Agar mereka bisa keluar dari lapak dengan kondisi pekerjaan yang lebih baik,  seperti yang bapak Rommel citakan. Terutama, bagi anak-anak mereka yang sejatinya generasi penerus bangsa ini. Doakan kami (Gemilang Indonesia, TDA Jaksel, dan percilku.com) agar program Rumah Baca ini mampu menjadi sarana untuk meningkatkan derajat kehidupan anak-anak di sana. Memperbaiki peradaban, dengan literasi. Aamiin. (Selvi Ermawati).