Menuju Wisata Halal Jateng

Menuju Wisata Halal Jateng

CERUK pasar wisata halal makin membesar seiring dengan pesatnya pertumbuhan populasi muslim di dunia. Sejumlah temuan riset menunjukkan pertumbuhan populasi penganut agama yang paling pesat adalah muslim, terutama di wilayah daratan Eropa dan Amerika. Pada 2030 diperkirakan jumlah populasi muslim mencapai 25 persen dari total populasi penduduk dunia.

Selain itu, pertumbuhan kelas menengah muslim yang signifikan, dan didukung kemampuan daya beli komunitas muslim yang terus menguat menjadi faktor utama yang mendorong pasar wisata halal makin bergeliat. Wisata berbasis syariah itu juga tidak hanya menyasar pada kelompok muslim, tetapi juga segmen nonmuslim. Karena wisata (industri) halal bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan rekreasi (tourism) dan makanan/minuman halal, melainkan juga telah menjelma menjadi gaya hidup halal global (global halal lifestyle).

Bahkan sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Korsel memanfaatkan tren pertumbuhan wisata (industri) halal itu sebagai penopang utama pertumbuhan pariwisata nasionalnya. Sehingga tidak mengherankan jika jumlah pelancong muslim dunia dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Pada 2016 jumlah turis muslim mencapai 121 juta orang, setahun kemudian meningkat menjadi 131 juta orang. Sementara pada 2020 diperkirakan angkanya menembus 158 juta turis (State of Global Islamic Economy, 2018).

Fenomena tersebut bisa menjadi peluang besar bagi terbukanya pangsa pasar wisata halal di Jawa Tengah (Jateng). Kemenpar (2018) memastikan ada 13 provinsi yang telah siap menjadi destinasi wisata syariah, salah satunya adalah Jateng. Kesiapan itu dinilai wajar karena Jateng merupakan provinsi dengan penduduk terpadat ketiga di Indonesia, yakni 13,22 persen total penduduk. Sementara mayoritas penduduk Jateng adalah pemeluk Islam, dengan populasi mencapai 34.235.239 jiwa atau 96,28 persen total penduduk Jateng.

Faktor lain yang lebih menguatkan, secara historis Jateng tidak bisa dipisahkan dari kejayaan kesultanan Mataram Islam. Hal itu lantaran situs-situs peninggalan sejarah (termasuk makanan/minuman khas) yang berhubungan dengan kerajaan bisa menjadi daya tarik pelancong domestik dan wisatawan mancanegara (wisman), sepanjang pengelolaannya mampu menghadirkan keunikan (unique experiences), dan ramah muslim.

Wisata halal juga dipercaya mampu meningkatkan kinerja kepariwisataan Jateng, terutama pada aspek keragaman asal negara pelancong, dan jumlah wisman yang berkunjung ke Jateng. Dari aspek ini, tampaknya kurang menggembirakan. BPS Jateng (2018) merilis data tentang jumlah wisman menurut asal negara, yang menunjukkan tidak ada satu pun wisman yang berasal dari kawasan Timur Tengah (Timteng).

Kunjungan Wisman

Berdasarkan data BPS Jateng tesebut jumlah kunjungan wisman ke Jateng relatif kecil. Pada medio Januari – November 2018 jumlah Wisman mencapai 20.983 pelancong. Sementara per-November 2018 sebesar 1.844 pelancong, dari jumlah itu didominasi wisman yang berasal dari Malaysia sebanyak 904 turis. Kemudian disusul wisman asal Singapura (320 turis), India (119 turis), Tiongkok (67 turis), Amerika Serikat (50 turis), Belanda (39 turis), Thailand (25 turis), Australia (24 turis), Philipina (23 turis), dan Jerman (22 turis).

Sepanjang medio 2018 pemerintah menargetkan kunjungan turis muslim asing ke tanah air sebanyak 3,8 juta orang, tetapi realisasinya tidak tercapai karena faktor bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah destinasi wisata halal unggulan, seperti Lombok, Palu, Padang, Serang. Namun peristiwa alam itu tidak menyurutkan tekad Kemenpar untuk menggenjot jumlah kunjungan wisman muslim. Tahun ini pemerintah menargetkan 5 juta turis muslim melancong ke objek-objek wisata halal domestik. Kemenpar (2018) mencatat jumlah turis muslim asing yang masuk ke tanah air pada periode Januari-Agustus mencapai 1.849.176 orang dari total 100.577.289 turis muslim di seluruh dunia.

Pemprov Jateng memiliki kesempatan emas untuk meningkatkan jumlah wisatawan asing, terutama yang berasal dari komunitas muslim kawasan Timteng. Oleh karenanya sektor pariwisata Jateng diharapkan segera berbenah untuk menata/menciptakan objek-objek wisata yang mampu memikat ratusan juta wisatawan asing muslim dunia. (34)

— Imron RosyadiLektor Kepala Pada Prodi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta (Sumber/Suaramerdeka.com/12/2/19)