Menyambut Rumah Sakit Syariah

Menyambut Rumah Sakit Syariah

ADA kabar menggembirakan bagi umat Islam di Indonesia yang mendamba pelayanan kesehatan berbasis Islam (syariah). Pasalnya, pada 24-25 Maret 2017 akan ditetapkan standar dan instrumen sertifikasi rumah sakit (RS) syariah.

Sertifikasi itu ditetapkan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI), sebagai wadah yang menghimpun penyelenggara sarana kesehatan Islam, bersama Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ikhtiar memformulasikan konsep penerapan nilai-nilai syariah Islam di rumah sakit diawali dari rangkaian rakernas MUKISI di Batu, Jatim (2009), Serang, Banten (2012), dan Bandung, Jabar (2015). Pada Juli 2015 disusun konsep standar dan instrumen rumah sakit syariah, mengacu konsep Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS).
Standar sertifikasi rumah sakit syariah merupakan kado istimewa bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, standar yang ditetapkan DSN MUI itu yang pertama di dunia. Negara-negara di Timur Tengah pun, yang jadi pusat kajian Islam, belum pernah mengeluarkan fatwa dan standar tentang pelayanan kesehatan berbasis syariah.

Nilai atau spirit syariah jadi tren sejak kemunculan bank atau lembaga keuangan berprinsip ekonomi Islam. Masyarakat, terutama muslim, memilih bank syariah karena merasa lebih nyaman dan nyaman sewaktu bertransaksi. Nyaman karena sesuai syariah dan ada jaminan halal.

Setelah itu muncul produk dan jasa, termasuk pelayanan kesehatan, yang menawarkan aplikasi syariah. Bagi umat Islam, pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu masih perlu disempurnakan dengan konsep syariah. Mengapa? Rumah sakit berbasis syariah adalah tempat yang benarbenar menjamin terselenggaranya ritual peribadahan pasien.

Lantas, seperti apa konsep syariah yang ditawarkan? Konsep itu mendasarkan maqashid alsyariah al-Islamiyah, yaitu tujuan ditetapkannya nilai-nilai syariah untuk menggapai kebaikan dan kesejahteraan umat, baik di dunia maupun akhirat , sebagaimana diungkapkan Imam Syatibi. Menurut ulama besar dari mazhab Maliki tersebut, ada konsep lima kebutuhan dasar manusia yang bisa diterapkan di rumah sakit syariah. Konsep tersebut yakni memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan memelihara harta.

Pertama, konsep memelihara agama, berarti rumah sakit harus peduli dengan kebutuhan ibadah setiap agama pasien sekaligus menjaga auratnya. Bagi pasien yang beragama Islam, tenaga medis yang merawat harus konsisten menerapkan dan menjalankan ibadah, baik untuk dirinya maupun pasien.

Dalam aplikasinya, petugas rumah sakit memberikan pengertian tentang tata cara beribadah dalam kondisi sakit, penggunaan kerudung bagi pasien perempuan ketika didatangi dokter lakilaki, pemakaian kerudung khusus yang menutupi payudara untuk ibu menyusui, menyediakan fasilitas tempat ibadah, termasuk peralatannya.

Edukasi Pasien

Kedua, memelihara jiwa bisa diartikan mengupayakan keselamatan pasien secara maksimal dan membangun spiritualitasnya supaya tegar menghadapi ujian Allah. Rumah sakit bisa memberikan bimbingan rohani supaya pasien bersabar, tawakal, dan senantiasa menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Ketiga, menjaga akal dimaknai sebagai upaya mengedukasi pasien dan keluarganya melalui pendampingan dan penyuluhan.
Upaya itu dapat ditempuh lewat pesan ataupun menanamkan keyakinan sehingga pasien dan keluarganya tidak saja sadar, tahu, dan mengerti, tapi juga mau dan bisa mengonsultasikan kesehatannya.
Keempat, memelihara keturunan. Dalam ajaran Islam, generasi penerus bangsa ibarat tiang, dan bangsa diumpamakan bangunannya. Bangunan dengan tiang kokoh dan berbahan bagus mampu bertahan kendati diterjang badai sekalipun.

Begitu pun generasi penerus bangsa. Iman dan kecerdasan akan jadi hal penting untuk memajukan bangsa ini. Jadi, rumah sakit syariah perlu membuka layanan reproduksi sehat, memiliki serangkaian program supaya menjadi tempat nyaman untuk persalinan. Harapannya, rumah sakit menjadi tempat lahirnya generasi sehat dan salih untuk meneruskan estafet perjuangan dakwah.

Kelima, memelihara harta. Islam adalah agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam muamalah.

Kegiatan pengelolaan harta diatur lewat prinsip- prinsip syariah. Penerapannya dalam rumah sakit syariah adalah pengelolaan kas, pembiayaan, dan investasi dilakukan bekerja sama dengan lembaga keuangan syariah.

Kehadiran rumah sakit syariah selayaknya disambut dengan suka cita. Sertifikasi rumah sakit syariah memberi peluang dan harapan bagi penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Ketercapaian itu baik dalam perspektif fisik, psikis, maupun spiritual, serta dakwah dalam kerangka pengembangan peradaban Islam.

—Samsudin Salim SAg MAg, Manajer BPI Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung (Sumber SM: 25 Maret 2017).