Nyeri Punggung Tak Harus Dioperasi

Nyeri Punggung Tak Harus Dioperasi

Pernahkah Anda mengalami nyeri punggung, nyeri pada leher, atau nyeri wajah separoh? Setiap orang bisa terkena nyeri, bahkan hasil penelitian yang dilakukan oleh  Community Oriented Program for Control of Rheumatic Disease (COPORD ) menemukan, bahwa prevalensi nyeri punggung masyarakat  Indonesia mencapai sebesar  13,6 persen pada wanita dan sebesar  18,2 persen pada laki-laki.

Nyeri punggung pada umumnya bukan sesuatu yang berbahaya dan bisa sembuh sendiri tanpa harus dibawa ke dokter. Namun pada kondisi tertentu  nyeri menyebabkan pasien sangat menderita, tidak mampu bergerak, susah tidur, tidak enak makan dan minum, cemas, gelisah, perasaan tidak akan tertolong dan putus asa. Keadaan saat ini  tentu mengganggu kehidupan normal penderita sehari – hari.

Dalam Workshop Interventional Pain  Level I  yang dilaksanakan di  Surabaya , Dr. dr. Agus Turchan  Sp. BS (K)  Kepala Departemen  Ilmu Bedah Saraf FK Unair menjelaskan bahwa penanganan nyeri punggung tidak harus berakhir dengan pembedahan jika memang tidak ditemukan indikasi yang mengharuskan tindakan pembedahan.

“Tidak selalu diatasi  dengan operasi, jika memang tidak ada indikasi yang mengarah ke pembedahan. Untuk memberikan kenyamanan dan  meningkatkan kualitas hidup, pasien bisa dilakukan tindakan pain management” jelas dr. Agus kepada peserta workshop.

Ditambahan dr. Agus kepada peserta workshop,  seorang dokter bedah saraf memiliki keunggulan dalam pelaksanaan pain managemen dikarenakan  mereka sangat memahami  struktur neuroanatomy  dan bisa melakukan evaluasi secara menyeluruh kepada pasien, apakah pasien tersebut cukup dilakukan tindakan pain management atau harus dilakukan tindakan operasi.

Beberapa tindakan pain management diantaranya  adalah injeksi suntikan obat-obatan analgesik dan steroid, terapi laser ablation yaitu memutuskan alur rangsangan nyeri yang dihantarkan oleh saraf nyeri dan mengurangi inflamasi dengan memfokuskan energi laser tingkat rendah ke punggung

Workshop Interventional Pain sendiri melakukan agenda rutin yang diselengggarakan oleh Program Studi  Bedah Saraf FK Unair, bekerjasama dengan Surabaya Neuroscience Institute  (SNei) dan Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia. Yang diselenggarakan sejak tahun 2009 dan telah berlangsung 13 kali. Peserta workshop Pain Management  tidak hanya d ikuti dokter spesialis  bedah saraf, namun juga spesialis ortopedi, saraf dan bedah.

Dr. dr Agus Turchan, Sp. BS (K)  bersama anggota Surabaya Neuroscience Intitute (SNei) lainnya merupakan pelopor Pain Management di Indonesia. Sempat belajar Pain Intervention di Birmingham Inggris, Kepakarannya dalam Pain management menjadikan dr. Agus didaulat sebagai ketua Pokja Neurofungsional di Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi).