Sandinomic untuk Indonesia

Sandinomic untuk Indonesia

Masih ada harapan untuk Indonesia. Itu yang saya rasakan ketika Sandiaga Uno dipilih oleh Prabowo untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden pada pemilu 2019 mendatang. Diusung oleh 3 partai diantaranya Gerindra dan partai berbasis Islam PAN serta PKS.  Harapan saya, ekonomi umat ini akan berubah menjadi lebih baik daripada kondisi sekarang ini. Dan Sandinomic,  dalam arti  mindset dan cara Sandiaga menyelesaikan permasalah ekonomi menjadi harapan tersendiri. Tak hanya bagi kalangan dewasa (tua), tapi juga harapan baru bagi kaum milenial.

Generasi milenial sendiri adalah mereka yang mayoritas lahir mulai tahun 1980-2000-an.  Generasi milenial, seperti dirilis Goldman Sach Global Investment Research digambarkan sebagai “ a different world, different view. Millenials have grown up in a time of rapid change, giving them a set priorities and expectations sharply different from previous generations”.  Ya, mereka punya dunia berbeda, punya cara pandang berbeda. Generasi milenial tumbuh dewasa di tengah perubahan yang sangat cepat, memberi mereka prioritas-prioritas dan harapan-harapan yang sangat berbeda dari generasi di atasnya.  Di Indonesia sendiri, mereka adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi, yang kemudian akrab dengan sebutan Generasi Net atau Warga Digital.

Nah, dengan hadirnya Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden, setidaknya memberikan angin segar bagi kaum milenial untuk bersama-sama mewujudkan harapan mereka. Sandiaga Uno dipandang mampu berbicara, dan saling bertukar pandangan serta bersama-sama mendapatkan  solusi untuk Indonesia yang lebih baik.  Dan, saya kira, untuk mewujudkannya, ada beberapa hal mesti menjadi perhatian kita bersama. Diantaranya:

Pertama, Ekonomi yang berpihak. Keberpihakan sendiri tentunya harus berada di rakyat kebanyakan. Bukan kepada konglomerat atau pengusaha-pengusaha besar saja. Ada pemerataan ekonomi. Rakyat bisa bangun dan bangkit. Bersama-sama berusaha agar ekonomi terangkat dan kesejahteraan bukan hanya angin surga dan sebatas janji-janji manis saat kampanye semata, tapi benar-benar mewujud dalam kehidupan keseharian rakyat.

Kedua, Negara harus hadir. Ya, Negara harus hadir dalam mewujudkan kesejahteraan. Bukan seperti rezim yang sekarang. Alih-alih berpihak kepada rakyat, negara  malah kontraproduktif dan membebani rakyat dengan beragam kebijakan yang menindas. Tentu saja, dengan hadirnya Sandiaga, kelak harapan akan datangnya pemerintahan yang adil dan pro kerakyatan menjadi mungkin. Dan tentunya harapan ini mesti kita kawal bersama.

Ketiga. Mempersiapkan seluruh generasi melenial dan UMKM dalam menyambut kedatangan era industri 4. Kalau kita bicara dan menyebut era industrial 4.0 berarti sudah termasuk di dalamnya isu tentang  (a) Teknologi informasi, (b)  Kemajuan teknologi robotic, (c) Kemajuan artificial integency (d) Teknologi big data. Dan Sandiaga, tentu sangat mengerti perkembangan demikian. Dan ketika sang pemimpin nantinya dekat dengan kaum milenial, dalam arti mengerti cara pandang dan gaya  mereka, maka inilah kekuatan Sandiaga Uno sebenarnya.

Keempat. Harus mengdepankan ruh IMTAQ dan IPTEK yang selalu update. Barangkali,  istilah ini terlampau klise, tapi, sejatinya masih relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Kehadiran teknologi dan perkembangannya yang mutakhir, harus diimbangi dengan kekuatan iman dan spiritual. Agar tak semata-mata titik fokusnya urusan duniawi semata, tapi ada dimensi akhirat di dalamnya. Sehingga semuanya menjadi ada ruhnya.

Kelima, libatkan perguruan tinggi dalam riset.  Di tubuh umat ini, riset barangkali memang telah banyak dilakukan, tapi dengan segala hormat, tentunya perlu terus dikembangkan. Tak hanya semata-mata riset murni (akademis) semata. Yang metok terpublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah. Tapi perlu terus dikembangkan agar bisa diaplikasikan oleh umat. Bisa memberikan dampak yang positif bagi perkembangan umat Islam.

Dari beberapa hal di atas. Saya kira, saya kira, hadirnya Sandiaga Uno memang memberikan harapan baru. Memang, dalam urusan perpolitikan praktis, kita kerap dikecewakan oleh elit-elit politik. Tapi, putus asa bukan jalan terbaik. Harapan tetap terus kita nyalakan.[Chairil Anwar Soleh/halaltren.com]