Tafsir tentang Makanan

Tafsir tentang Makanan

DI JAKARTA, 30-31 Oktober lalu, para menteri, pejabat, dan pengusaha berkumpul dalam East Asia- Pacific Food Forum. FAO mencatat masih ada 723 juta orang di dunia mengalami kelaparan kronis. Di Indonesia, penduduk masuk kriteria rawan pangan ada puluhan juta.

Makanan masih jadi urusan darurat berbarengan dengan industri dan turisme global. Di Jakarta, makanan dipikirkan untuk menghasilkan mufakat dalam kerja menanggulangi lapar dan penghematan makanan demi anak cucu. Kita perlahan mengingat, sejarah peradaban manusia dipengaruhi oleh tata cara mendapatkan dan memberi makna pada makanan. Ritus dan teknologi mencari-mengolah makanan mengartikan derajat adab suatu komunitas.

Makanan menjadi representasi hidup. Arus modernitas turut mengubah makna makanan di ranah pembangunan global. Pertarungan ideologi makin menempatkan makanan sebagai isu krusial. Pemberlakuan nilainilai kemodernan dan puja teknologi modern menghasilkan laporan memukau: ”Nilai gizi makanan meningkat secara dramatis dan kelaparan sangat jarang”.

Kalimat itu memihak pada agenda modernisasi dalam peradaban dunia abad XIX. Transformasi material dan signifikansi makanan pun menjelma pokok modernisasi. Kita diajak melihat dunia adalah ruang hidup bergelimang makanan. Orang mendefinisikan diri merujuk ke makanan. Eksistensi kekuasaan bergantung produksi dan distribusi makanan.

Nasib dunia ada di pemaknaan makanan. Makanan di abad XX kentara menjelaskan pamrih kolonialisme dan kapitalisme. Agendaagenda kolonialisme lazim menjadikan makanan sebagai dalih penguasaan atas negeri jajahan. Makanan untuk hidup menimbulkan narasi hegemonik. Abad XX kian menguatkan arti makanan sebagai bukti politikkemakmuran.

Kolonialisme dan kapitalisme sanggup memakmurkan negara penjajah dan membangkrutkan- memiskinkan negara terjajah. Sinisme bisa mengingatkan nasib Indonesia saat dieksploitasi agenda kolonialisme. Mantra pembangunan bercorak kapitalisme menghendaki pemaknaan makanan ada di ranah industrial; komoditas bertuah demi uang dan laporan kesuksesan pembangunan.

Eksistensi negara dalam mengamalkan doktrin-doktrin pembangunan merujuk ke makanan sebagai representasi politik-kemakmuran. Konsumerisme adalah ajaran absolut memuliakan pembangunanisme dan kapitalisme. Makanan memang melegitimasi politik-kemakmuran tapi menjerumuskan hakikat manusia. Alam adalah korban dari keserakahan berdalih makanan.

Erick P Eckholm dalam ”Picture of Healt” (1977) memandang dunia terbedakan oleh pamrih atas makanan: mempertahankan hidup atau memuja makanan demi status sosial-kultural. Dua kubu itu memiliki pemaknaan makanan untuk hidup tapi berseberangan saat mengartikan kesehatan dan kemakmuran.

Abad XX sesak oleh trageditragedi akibat puja makanan dan kelaparan. Laporan kesehatan dan kematian di dunia merujuk ke pemaknaan makanan. Kegagalan dan pengabaian atas pemaknaannya sebagai basis kehidupan justru menimbulkan ironi dunia: penyakit dan kematian. Kita lazim mengetahui ribuan jenis penyakit telah mengakhiri kehidupan jutaan orang di dunia.

Pola konsumsi dan pemaknaan makanan menjadi sebab-pemicu. Agenda-agenda pembangunan pun mengusung tema kesehatan di arus besar politikkemakmuran dan kapitalisasi makanan. Ideologi pembangunan dan sihir globalisasi menimbulkan kontradiksi dalam mengartikan makanan di ranah ekonomi-politik-kultural. Kegagalan memuliakannya bakal mengundang maut dan menistakan negara. Kondisi itu dialami oleh sekian negara di Asia dan Afrika.

Makanan menentukan dunia. Kebijakan pelbagai negara memengaruhi agenda peradaban. Nalar meraup untung atas nama pendapatan negara melalui makanan sering menimbulkan tragedi. Thomas LFriedman (2009) menganggap makanan menentukan laju pembangunan dan dominasi negara-negara maju. Lakon makanan di abad XXI juga menjelaskan tentang nasib Indonesia sebagai ruang bisnis makanan. Negara tampak lengah dalam pengaturan dan kontrol atas persaingan bisnis dengan mantra konsumerisme.(Sumber: Suara Merdeka 4 Nove 2017)

—Bandung Mawardi,penjaga Bilik Literasi