Jurus Efektif Menyiapkan Mental Hadapi PHK Masal Paska Dolar Tembus Rp 14.000

Jurus Efektif Menyiapkan Mental Hadapi PHK Masal Paska Dolar Tembus Rp 14.000

Jika setiap manusia memiliki lima emosi yaitu, bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut. Sesosok monster mengerikan telah mengambil rasa takutku.

Itu adalah pengakuan Bujang, tokoh dalam novel “Pulang” karya Tere Liye. Bujang adalah anak mami yang tidak pernah pergi jauh dari rumah. Sepanjang usianya dari kanak-kanak hingga remaja, hidup dalam pengawasan ibunya yang selalu khawatir anaknya celaka. Hingga suatu hari ia terpaksa berhadapan dengan monster mengerikan di tengah hutan.

Hanya ada dua pilihan baginya, hidup atau mati, melawan sosok mengerikan itu sendirian. Bujang memilih harus tetap hidup dengan seluruh pikiran dan kemampuannya hingga monster itu tumbang.

Setiap orang memilki rasa takut. Rasa takut itu timbul sebagai respon atas berbagai kondisi yang diyakini akan memberikan rasa sakit, kesedihan, penderitaan, ketidak bahagiaan, serta berbagai kengerian lainnya.

Sebelum rasa takut itu tertanam dalam keyakinan kemudian mengental dalam jiwa manusia, semula ia hanyalah objek yang dilihat dan ditangkap oleh otak kemudian dipahami dan dianalisis oleh pikiran kita sebagai sesuatu ancaman. Semakin besar objek ancaman itu dipahami, semakin besar pula rasa takut yang dimiliki.

Dengan memahami asbabunnuzul dari mana rasa takut itu bermula, maka siapapun akan mampu menghadapinya atau mengelolanya.

Setiap orang memiliki perspektif berbeda-beda dalam membaca suatu jenis objek sebagai ancaman. Istri saya, akan berteriak-teriak histeris apabila melihat seekor cicak menempel di dinding kamar mandi. Padahal, apalah daya bahayanya seekor cicak.

Saat kelas satu SMP, matematika adalah momok mengerikan bagi saya. Begitu sulitnya pelajaran itu. Ia telah menjadi monster yang terus menghantui, terutama saat-saat menghadapi ujian semesteran. Itu berlangsung bertahun-tahun hingga suatu saat saya berhasil menundukkan monster itu.

Tentu saja rasa takut itu bertingkat-tingkat. Bukan hanya takut cicak, takut cuaca mendung, takut matematika, takut diputus pacar, takut ditolak calon mertua, dan seterusnya bahkan para suami yang takut dengan istri he he he.

Di atas semua itu, rasa takut adalah fitrah atau sifat alami yang disemayamkan sang pencipta kepada manusia sebagaimana empat emosi berupa bahagia, sedih, jijik, dan marah. Dan diantara rasa takut paling puncak yang akan dirasakan semua manusia dewasa adalah “takut lapar dan kekurangan”. Demikianlah, kitab suci menuliskan.

Akhir-akhir ini kita membaca berita yang bisa membangkitkan rasa takut paling puncak itu. Banyak perusahaan ritel menutup gerai toko, pabrik-pabrik tutup atau relokasi, PHK masal menghantui, daya beli menurun, dan seterusnya. Situasi demikian itu adalah objek yang bisa membangkitkan rasa takut. Rasa takut dengan tingkat yang beragam oleh masing-masing orang.

Karyawan takut kena PHK. Manajer takut tidak achieve. Para CEO dan pimpinan perusahaan takut akan digeser oleh pemegang saham. Pemilik usaha takut penjualan merosot dan tidak mampu membayar gaji karyawan. Dan seterusnya.

Bagaimanapun, situasi di luaran sana adalah keniscayaan yang harus terjadi. Rasa takut itu wajar. Namun yang tidak wajar adalah ketika rasa takut itu terus dibiarkan menggerogoti kesehatan pikiran dan jiwa kita.

Awal mulanya cemas, diikuti asam lambung tidak normal. Napas sesak. Gestur tubuh tidak beraturan. Pikiran kalut. Pada puncaknya, depresi. Jangankan bertemu orang lain, keluar ruamah pun takut. Semua jadi neraka.

Sebenarnya, kita sendirilah yang menciptakan monster dalam diri kita. Kita telah menciptakan mental block, dinding tebal yang menghalangi langkah kita sendiri. Pikiran kita telah sukses meluluh-lantakkan bangunan jiwa kita hingga titik nadir.

Padahal, rasa takut itu hanyalah pikiran kita sendiri. Ia bisa kita telikung hingga KO. Ketakutan bisa diubah menjadi kekuatan yang dahsyat. Maka, hari ini kita akan sepakat untuk menakhlukkan monster-monster itu.

Bagamana caranya?

Kita bangun perspektif baru. Kita perintahkan otak kita untuk membaca ulang objek-objek yang membuat ketakutan itu. Semua objek yang ada di luaran sana itu kita ubah bentuknya menjadi monster-monster kecil. Kita ciptakan monster baru yang lebih besar dan mengerikan lalu kita perintahkan memangsa monster-monster kecil tersebut. Kita bangkitkan raksasa dari dalam diri kita yang selama ini tertidur.

Dengan begitu, para CEO dan direksi tidak takut lagi digeser oleh pemegang saham. Sebab, mereka telah menemukan monster raksasa yaitu “semangat menyibukkan diri membangun upaya-upaya strategis dan langkah taktis untuk menciptakan perubahan”. Kalau pun toh akhirnya digeser, mereka akan tetap eksis di tempat lain, bahkan sekian kali bisa lebih hebat dari tempat sebelumnya.

Para manajer tidak takut lagi tekanan dan KPI-nya menurun, karena telah berhasil membangun mental raksasa dari dalam dirinya untuk membuat lompatan-lompatan baru. Karyawan tidak lagi stress terancam PHK, karena ia terus belajar meningkatkan kemampuan diri, dan kalau pun toh pada akhirnya terkena PHK, tetap akan survive di mana paun dan dalam kondisi apa pun. (*)

Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia